"Menjadi eksis atau dikenal menurut ilmu psikologi adalah kebutuhan dasar dari manusia". Itulah kata guru BP saya waktu SMA yang memanggil saya karena pada masa itu, saya pernah terjerat kasus pemalsuan identitas tes try out salah satu bimbingan belajar yang tidak akan saya katakan dengan alasasan apapun bahwa nama bimbingan belajarnya adalah SSC. Waktu itu saya dan hampir semua peserta mengerjakan try out untuk mengetahui sejauh mana saya bisa menghapal rumus-rumus fisika dan matematika yang tidak saya suka, namun juga tidak saya benci, saya hanya tidak peduli saja. Dan itulah yang membuat saya dikenal oleh ibu bapak guru juga teman-teman sekolah. Alhamdulilah. Di salah satu hari di tahun 2007 ada ujian try out di SMU Negeri satu yang ada di banyuwangi, Negara Indonesia, di salah satu Planet diantariksa. Saya agak minder, bukan karena saya jelek, dan kenyataanya memang saya ganteng menurut saya sendiri. Saya hanya tidak mau riya,kalo nanti pas diumumkan di papan pengumuman nama saya terpampang tidak lulus dalam try out tersebut. Makanya saya punya ide untuk memakai nama samaran, biar orang lain tidak tahu, biar hanya saya dan Tuhan aja yang tau. Waktu itu karena saya ngefan sama Bapak Kyai Haji Abdurahman Wahid, presiden Republik Indonesia. Rasanya tak perlulah saya jabarkan kalo saya suka beliau karena satu alasan. Pada masa pemerintahan beliau, selama bulan Ramadhan plus 2 minggu setelah lebaran sekolah diliburkan. Dan lagi dia adalah figure yang unik dan menarik menurut saya. Gak perlu juga saya tuliskan akan memilih beliau jadi presiden dalam pemilu jikalau beliau mencalonkan diri, tak perlu rasanya itu semua saya tulis disini, takut dibilang tidak netral. Apalagi saya seorang pekerja pemerintah yang harus menjungjung tinggi netralitas. Jadi saya tidak akan kasi tau kalian kalo saya agak kurang suka sama es beye, karena kata dokter tidak boleh terlalu sering minum es, gak baik. Begitulah riwayatnya akhirnya dengan yakin saya menuliskan nama GUSDUR dalam lembar jawaban soal try out tersebut. Malang tak dapat dikira ternyata, hal itulah yang membuat petaka, hal yang menurut saya sepele, ternyata tidak sepele menurut guru dan kepala sekolah. Untuk memastikan kalo saya tida salah, saya juga bertanyapada teman-teman saya, dan menurut mereka juga tidak salah, karena mereka juga sama ternyata, memakai nama palsu dalam Try Out tersebut. "Semua yang merasa memiliki salah harap maju kedepan!!" itu kata pa Guru, berteriak dalam pengeras suara, setelah upacara bendera selesai dilaksanakan dilapangan. Cuaca sedang cerah, angin bertiup, matahari menyinari kami yang masih berdiri tidak rapi, Karena wajarlah kaki kami pegal, tangan kami pegal, setelah berdiri selama upacara. Semua siswa, termasuk saya tetap diam, karena menurut saya kalau perintahnya seperti itu, harusnya yang merasa manusia termasuk bapak Guru itu, penjaga sekolah yang sedang lewat, tukang siomay, tukam mie ayam dan batagor yang dikantin juga harus ikut maju kedepan,karena setiap manusia pasti memiliki salah. Suasana sangat hening, jadi kalo ada yang kentut walaupun berbisik pasti akan ketahuan. Teman-teman saya mulai ketakutan, tetapi saya tidak, saya cuman agak tegang saja. Kemudian pak guru kembali berkata sambil meninggikan volume dan tekanan suaranya dan melafalkan kalimat persis sama dengan yang diucapkan sebelumnya, agar semua yang mendengar tau, tau kalau beliau sedang terpengaruh godaan iblis untuk marah. Masyaaloh hal yang menurut saya sepele ternyata tidaklah demikian. Kami merasa salah wahai ibu bapak guru. Kami malu sekali harus berdiri dilapangan upacara yang panas terik itu, malu kepada orang tua kami yang bekerja untuk kami tapi harus ikut kami kesekolah, untuk berbincang dengan ibu bapak guru. Kami malu pada pekerja kantor pos itu karena harus membeli materai sebagai legalisasi janji kami untuk tidak berbuat salah lagi. Tak apalah saya yang kena tampar waktu itu, saya iklas karena Nelson Mandela juga tetap iklas saat harus dipenjara puluhan tahun untuk mendapatkan hak-hakwarganya. Pramoedya Anantatoer juga tetap iklas terpenjara di pulau buru, danmasih tetap menghasilkan karya-karya sastra yang sangat berkelas. Begitu juga dengan AA Gym yang juga iklasuntuk berpoligami demi menjalankan sunnah Rossul yang juga saya dukung. Sayapun demikian, demikian iklas seperti mereka, mudah-mudahan. Hari terus berlalu dan kejadian itu malah jadi sebuah kenangan yang tak terlupakan, sebuah kenangan berharga. Bahkan sekarang saya sudah lupa akan rumus-rumus fisika itu, tapi kejadian itu tetap menjadi fakta sejarah dalam hidup kami. Ternyata ada hal-hal yang baik yang bisa saya pelajari daripengalaman itu. Saya jadi termotivasi untuk belajar dan terus belajar agar saya bisa membuktikan diri, bahwa saya bukan hanya aib bagi sekolah, bahwa saya bukanlah hanya pembuat onar, bahwa saya bukanlah yang bodoh karena nilai try outnya 3,5. Biar bapak ibu juga tau bahwa saya juga bisa jadi seperti ibu bapak guru, menjadi guru. Dan insyaaloh akan berjuang seperti ibu bapak guru.Terimakasih sangat banyak sekali. Wahai engkau, semua juga sama dengan kalian,yang tak luput dari kenakalan dan kesalahan. Jangan ditiru yang buruknya, tirulah yang baiknya. Bagaimanapun kita harus percaya diri, gentle. Percaya pada kemampuan sendiri, dan harus narsis, karena sesungguhnya orang narsis itu disayang Tuhan, karena dengan begitu berarti kita mensyukuri dan berbangga atas apa yang ada pada kita.
SMS gratis
Selasa, 05 Oktober 2010
masa masa indah SMA
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 comments:
Posting Komentar